Wednesday, November 11, 2009

they're not my pet, they're my children

“The greatness of a nation and its moral progress can be judged by the way its animals are treated.”

mereka tidak pernah keluar dari rahimku, tak sekalipun menyusu dari payudaraku
namun aku tak sedikitpun meragukan bahwa mereka adalah anak-anakku
bahwa aku adalah seorang ibu bagi mereka

melihat schakty mati dalam genggamanku, menyaksikannya berjuang melawan maut
jangan pernah fikir itu mudah
menyaksikan mereka mati tergeletak karena racun, tersungkur kedinginan dalam gelap
jangan pernah fikir itu mudah
mungkin aku takkan pernah melintasi malam dalam dingin, barat-utara hingga kembali ke selatan semata untuk diriku, semata untuk sakitku..
namun malam kan kulawan, dingin kan ku hajar, takut kan kuhadapi
untuk anakku, belahan hatiku...
sayangku,
terimakasih, kalian telah mengajarkan mama menjadi manusia yang lebih baik
kalian tak hanya anak mama, kalian juga guru bagi mama

selamat jalan sayangku,
selamat bersenang-senang di surga..


Read More..

Sunday, May 10, 2009

Kucing aja tau !

Dua minggu terakhir ini cukup melelahkan, rencana perjalanan ke india cukup memakan energi, belum lagi sulitnya menyelesaikan masalah administrasi dan keuangan. Tidak ada lagi waktu untuk bermain dan mengobrol dengan Schakty. Praktisnya, urusan schakty kuserahkan pada Orin. Mulai dari menyiapkan makan, mandi hingga bermain. Toh secara finansial aku masih tetap memenuhi semua kebutuhan schakty, fikirku.

Setiap malam sebelum tidur biasanya aku akan bermain dengan schakty, ia akan menggigiti jempolku yang menyembul dari balik selimut.setelah lelah ia akan menyelinap di balik selimutku dan tertidur. Namun akhir-akhir ini aku terlalu lelah untuk bermain-main dengannya, aku akan tidur lebih dulu dari schakty.


Namun apa yang terjadi, schakty akan tetap menggigitiku, bahkan lebih kuat dari biasanya. Sakit luar biasa. Ini bukan main-main lagi. Aku akan mulai marah dan menepisnya untuk tak mendekatiku. Dan schakty akan tetap mendekatiku lalu menggigitiku. Terus begitu. Akhirnya marahku akan meledak dan tanpa sadar membentak nya keras. Yang terjadi adalah schakty menjauh dariku, tidak secara fisik, namun juga secara emosional. Ia lebih sering bermain dengan orin, bahkan lebih nyaman tidur di dekat orin daripada di dekatku.aku menjadi sedih.

Harus kuakui bahwa aku telah sangat egois sebagai seorang ibu. Aku terlalu mengeluh dengan rasa lelahku dan berharap schakty memahamiku. Aku lupa bahwa schakty hanya seekor anak kucing, ia tak paham semua itu, yang ia inginkan hanya bermain, mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Ia hanya ingin aku menyiapkan makan dengan tanganku sendiri, mengelusnya, tersenyum dan menyapanya setiap kali aku pulang ke rumah. That's it.

Aku belajar sesuatu dari kejadian ini. Jika seekor anak kucing bisa berperilaku seperti ini, apalagi seorang anak manusia? Berapa banyak orangtua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannnya, berfikir bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk anak-anaknya, agar anak-anaknya bisa makan dan sekolah. Berapa banyak orangtua yang mengabaikan anaknya ketika pulang ke rumah karena mereka terlalu lelah bekerja seharian? Mereka justru akan marah-marah jika anaknya rewel tanpa memahami bahwa kerewelan anaknya adalah karena mereka butuh perhatian dan kasih sayang. Mereka lupa bahwa bagi anak-anaknya, uang bukan segalanya. Mereka hanya menginginkan waktu luang bersama orang tuanya, bercanda atau sekedar bermalas-malasan bersama. Berapa banyak anak yang kini lebih dekat pada pembantunya daripada pada orangtuanya. Tentu saja, karena pembantu mereka lah yang menyiapkan makanan, mengurus semua kebutuhannya, bahkan orang pertama yang mereka temui ketika mereka tiba di rumah.berapa banyak keluarga yang terjebak dalam situasi seperti ini?

Terimaka kasih schakty, mama belajar lagi kali ini.
Semoga, ketika aku menjadi seorang ibu dari anak manusia, aku bisa menjadi seorang ibu yang bijak.


Read More..

Saturday, April 4, 2009

A Letter by Kucing Kuning

Pagi ini aku tiba di sebuah taman yang indah, peluk dan senyum hangat para malaikat menyambutku. Matahari menyentuh kulitku, bulu-buluku yang kaku mulai mengembang kuning mengkilat. Langit berwarna biru cerah melambai padaku. Ah, indahnya. Dari jauh kulihat kucing-kucing sedang bermain di padang rumput yang luas, ikan-ikan segar turun dari langit seakan hujan hadiah. Aku tiba di surgaku.

Terimakasih untuk om kapit yang telah memandikanku, tante tika dan tante orin yang mengasihiku. Schakty, kucing manis yang menjadi sahabat baikku, semalam kamu tinggalkan mama inna tertidur hanya untuk menemaniku melewati rasa sakit yang menyiksa.
Mama inna, om david..terimakasih karena telah menemani dan merawatku melalui saat-saat terakhirku. Ternyata kematian tak semenakutkan yang ku kira.
Terimakasih karena telah memberiku sebuah rumah, 3 hari terindah dan penuh kehangatan dalam hidupku.

( Kucing Kuning )
Read More..

Sunday, March 22, 2009

Selamat datang Schakty

Malam ini schakty menyelinap di antara lipatan perutku, mulutnya yang kecil itu mulai menggigiti kulit perut dan bajuku. Aduh, sayangku. Aku bukan induk kucing. Tidak ada air susu ibu kucing di sana. Kutahan air mataku. Aku mengerti betapa schakty membutuhkan ibunya di sampingnya. Sama seperti aku.

Schakty menjadi penghuni baru di rumahku sejak seminggu yang lalu. Ketika pertama kali datang tubuhnya penuh dengan kutu. Aku jijik menyentuhnya. Setelah semalaman berdiam di dalam kardus di belakang rumahku, aku akhirnya luluh mendengar suaranya yang memelas. Matanya yang biru muda menatapku dengan sendu, ia tidak memalingkan matanya ketika kuberbicara padanya. Aku jatuh cinta dan menuai harapan pada bayi kucing mungil ini. Malam itu juga aku dan andi memandikan schakty, membersihkan tubuhnya dari ratusan kutu yang menjijikan itu. kuberi nama schakty seperti nama kantinku, semoga ia bisa membawa berkah dan kebahagiaan.
Selamat datang schakty,
Read More..

Thursday, January 15, 2009

I want cats so badly


Hari ini, kedua tanganku menyentuh dan merasakan bulu lembutnya ke-lima bayi kucing mungil yang kutemukan di taman depan rumahku. 3 diantaranya berwarna kuning, satu hitam dan satu lainnya berwarna hitam keabu-abuan. Hatiku luluh melihat mereka menggeliat di balik tubuh si kuning, induk mereka.

Sudah lama, sejak aku merindukan kehadiran kucing dalam hidupku. Mereka selalu membuatku merasa diliputi kasih sayang. Aku tak bisa tak jatuh cinta pada kepolosan dan kemanjaan mereka. Sungguh, kucing telah banyak mengajariku tentang kasih sayang dan kesabaran.

Mamah dan adikku yang tengah hamil tak menginginkan mereka, aku memahami ketakutan adikku. Namun aku tak tega jika mereka begitu saja di berikan pada anak-anak kampung. Mereka, anak-anak ini memang menyukai kucing namun mereka tak paham bagaimana mengurus bayi-bayi kucing ini.Mereka di biarkan di dalam kardus di luar mesjid, ketika hujan tentu saja mereka kedinginan. Salah satu dari bayi kucing ini keluar dari kardus dan tertabrak sepeda. Dadanya berdarah, aku segera membawanya pada induknya. Si kuning menyambutnya dengan mengeong seakan bertanya apa yang terjadi. Aku biarkan mereka saling merawat. Sejam kemudian kulihat si kuning masih memeluk dan menjilati si kecil yang berdarah, kucing yang malang, ia tak lagi bergerak. Sepertinya sesaat lagi aku harus mengurus pemakamannya.

Akhirnya aku berhasil mencuri dan menyembunyikan bayi-bayi kucing ini lain dari tangan mereka. Kini, bayi-bayi kucing dan ibunya tengah tertidur pulas di dalam kamarku. Tentu saja, adikku dan mamah menolak untuk masuk ke dalam kamarku 
Aku ingin mengurus mereka dengan cinta kasih, takkan lama sebelum aku kembali ke jogja. Ketika aku melihat mereka, hatiku diliputi kebahagiaan dan kasih sayang yang membuatku mencintai dan menyukai diriku sendiri. Aku senang menyebut diriku sendiri sebagai mama kucing. Aku mau kok menjadi mama untuk semua kucing di dunia.

Aku segera teringat pada keinginanku untuk segera memiliki rumah sendiri. Biarlah kecil dan sederhana, aku ingin hidup bersama kucing-kucing menikmati senja yang merah dan bermanja di kursi kayu memanjang. Aku ingin hidupku kembali di warnai kemanjaan dan kepolosan mereka. Aku ingin membagi kasihku pada mereka. Sebuah keluarga kecil yang bahagia.

Terimakasih jeni, kucing pertamaku yang telah memulihkan kebekuan hatiku, mengajarkanku kesabaran dan arti cinta kasih. Ketika sakit kita saling menjaga, dan pada kerapuhanmu aku belajar tentang kekuatan seorang ibu. Terimakasih untuk Edo, Pi’I, Koski dan Yin Yang yang telah menemaniku melewati masa-masa sulit dan menemukan makna kesetiaan.
Aku ingin kucing lagi !
Read More..

Monday, October 27, 2008

Jangan takut sayang, ini mama Inna...

Malam ini Pi’i, kucing kesayanganku datang ke rumah. Begitu aku melihatnya ia berlari ke luar. Aku senang menyambut kedatangannya, namun Pi’i masih sedikit takut padaku. Malam ini, kami saling menatap dari kejauhan, aku mengajaknya mengobrol dari balkon dan Ia menatapku dari ujung balkon lain.

20 bulan yang lalu, aku bertemu Pi’i untuk pertama kalinya. Mama cindy melahirkan 3 ekor kucing yang sehat dan menggemaskan. Umur Pi’i waktu itu baru 2 minggu, aku membawanya pulang ke rumah kontrakanku di Condong Catur. Sejak saat itu, aku menjadi mama untuk Pi’i. Beberapa minggu kemudian, kedua saudara Pi’i yang lain ikut bersamaku. Kuberi nama Edo dan Koski. Mereka bukan kucing peliharaanku, mereka adalah anak-anakku. Mereka telah mengajarkanku tentang kasih sayang dan kesetiaan.


Edo dan Pi’i ikut pindah bersamaku ke Bekasi. Andi membawa mereka dengan kereta ekonomi hingga mereka tiba di rumah baru mereka. Kehadiran mereka membantuku melalui masa-masa sulit. Aku mencurahkan hatiku untuk mereka, dan sebaliknya mereka memberikan kasih sayang dan kesetiaan yang luar biasa. Aku pulang kerja setiap pukul 3 pagi, lelah luar biasa. Ketika aku tiba di rumah, mereka menungguku di depan pintu, dan seketika lelahku hilang ketika aku bertemu dengan mereka.

Edo mati setahun yang lalu, ia tidak ada di rumah ketika aku sekeluarga akan pulang ke tasik. Aku akhirnya pulang ke tasik tanpa Edo. Seminggu kemudian penjaga rumah memberitahu kalau Edo mati di ruang tamu. Kemungkinannya Edo pulang ke rumah dan menungguku. Selama berhari-hari ia terkurung di dalam rumah tanpa makanan. Edo mati di atas sofa tempat ia tidur. Aku mengirimkan doa untuknya.

Satu hal dari Pi’i yang tidak bisa aku lupakan adalah tatapan matanya. Lewat tatapan matanya aku tahu ia mengerti diriku. Hampir setiap malam aku bercerita pada Pi’i segala hal yang kulakukan selama sehari penuh. Aku pun bercerita padanya tentang segala suka dan dukaku. Aku menangis diam-diam di dalam kamar bersama Pi’i. Ketika kesedihanku begitu dalam, Pi’i akan menjilat air mataku hingga aku tak mungkin ingkar untuk mencintainya.

Ketika aku meninggalkan rumah, Pi’i hanya berdiam diri di atas tempat tidurku. Ia menungguku dengan setia. Orang-orang rumah akan menelponku hanya untuk memberitahu bahwa Pi’i masih menungguku. Aku seringkali menelpon rumah dan meminta gagang telpon di arahkan pada Pi’i agar ia bisa mendengar suaraku, dan seperti biasa aku akan mengatakan ; Mama inna sayang pi’i, mama inna sebentar lagi pulang.

Awal tahun ini aku kembali ke Jogja, selama 2 bulan pertama aku berpisah dengan Pi’i dan perpisahan itu amat menyakitkan. Aku selalu merindukannya, selalu mengingatnya menjelang tidurku. Sekali lagi, andi menjemput Pi’i ke bekasi agar aku bisa bersamanya. Pi’i tiba di Jogja di suatu pagi hari di bulan Februari.

Kali ini, aku melakukan kesalahan besar. Karena kelalaianku, Pi’i hilang. Selama sebulan aku dan andi terus mencarinya, aku bahkan memasang pamflet di mana-mana. Nihil. Pi’i tidak pernah kembali ke pelukanku.

aku hanya meminta pada Tuhan agar Ia memelihara Pi’i. Memberinya tempat hangat ketika hujan datang, menyediakan makanan untuk Pi’i di saat ia lapar. Aku meminta matahari membuatnya tetap hangat, dan memohon agar malam tak menyiksanya dalam dingin. Aku yakin, Tuhan akan merawat Pi’i dengan baik.

Bulan demi bulan ku lalui, aku merawat kucing baru, kuberi nama Yin dan Yang. Pada mereka aku mencurahkan kasih sayangku. Yang mati muda karena tertabrak motor. Sejak saat itu Yin berganti nama menjadi YinYang. Aku mencintainya, namun cintaku pada Pi’i tetap tak pernah berkurang, aku masih mengirimkan doa untuk Pi’i.

Ketika aku pindah ke rumah baru ini, suatu malam aku bertemu dengan kucing yang sangat mirip dengan Pi’i. Beberapa kali aku melihatnya, dan aku semakin yankin bahwa itu adalah Pi’i. Aku memanggilnya dan ia dengan sedikit takut memahami ucapanku. Aku bisa berbicara dengan Pi’i. Ia paham semua ucapanku. Dan tatapan mata itu tetap sama, tatapan mata yang mengerti ucapanku.

Tuhan mempertemukan kami kembali.

Pi’i sudah menjadi kucing liar. Ia penuh dengan rasa curiga dan ketakutan. Tak mudah untukku mengajaknya berbicara. Setiapkali melihatku ia akan berlari namun jika aku memanggil namanya ia akan berhenti dan menatapku, lalu lari lagi. Beberapa kali dalam seminggu ia akan datang ke balkon kamarku, dan lari setiap kali melihatku. Namun ia tak pernah benar-benar menjauh. Ia lari dan hanya mencari tempat di mana kami masih bisa saling melihat. Aku harus bersabar menghadapinya. Setidaknya, Pi’i baik-baik saja, aku patut bersyukur.

Namun ada kalanya kerinduan untuk membelai Pi’i tidak tertahan. Seperti malam ini, kami hanya saling bertatapan dalam kegelapan namun Pi’i tak mau kudekati. Dengan putus asa, aku menangis di hadapan Pi’i. Rasa rindu dan cinta bergemuruh di dadaku. Aku hanya ingin membelaimu sayangku…

Tiba-tiba malam ini aku menyadari sesuatu. Betapa menyakitkannya menjadi seorang ibu yang di tolak anaknya sendiri, sebagaimana menyakitkannya seorang anak yang di tolak ibunya sendiri. Aku jadi ingat Cisco, jabang bayiku. Seandainya ia hidup dan memiliki perasaan, betapa menyakitkan untuknya karena aku telah menolak kelahirannya. Betapa buruknya aku.

Maafkan mama, cisco sayang…

Sekali lagi, aku belajar sesuatu yang berharga dari Pi’i…sekali lagi, seekor kucing membawa kebijakan bagi manusia sepertiku…

Tuhan, terimakasih telah mengingatkanku semasa aku masih punya waktu untuk menyadarinya. Kasihmu memang ada di mana-mana.
Read More..